Peringatan (boleh diabaikan) !...Menelusuri Weblog ini dapat menyebabkan cerdas, bijaksana, serangan kantuk, serta ganguan terhadap stagnasi pikiran!.......Menulislah engkau, selama engkau tidak menulis engkau akan hilang dari masyarakat dan pusaran sejarah (Pak De Pram "Pramoedya Ananta Toer").
MAHALNYA PENDIDIKAN
Saturday, May 05, 2007
MAHASISWA MISKIN DILARANG WISUDA

“…pendidikan akan menindas dan dalam batas-batas tertentu justru menjadi tempat “onani sosial” para intelektual untuk mengukuhkan kemapanan mereka.”
-Nur Kholik Ridwan-


Diam-diam aku mengamini apa yang dikatakan Michael Foucoult, bahwasanya pengetahuan itu ya kekuasaan. Awalnya aku menginginkan pengetahuan-cinta, dan bukan pengetahuan-kekuasaan. Tetapi melihat dan juga mengalami sebagai bagian dari kelompok orang sekolahan, fakta membuktikan adanya relasi yang sangat jelas antara kekuasaan dan pengetahuan. Berikut ini adalah cerpen lisannya Mas Sam.

Suatu pagi hari kira-kira pukul 14.30, waktu yang biasa dipakai kelas dosen dan “mahasiswa profesional” untuk tidur seorang pengajar bergelar Prof. Dr. Drs. DLLAJR datang ke kosku. “selamat siang Mas Sam!” “Selamat siang juga Prof.!” Aku terkejut saat tahu siapa yang datang. Sambil mengenakan baju kupersilahkan beliau masuk Saat itu aku sedang mengetik proposal penelitian teman.

“ada apa ni Prof, Kok tumben menyempatkan sowan ketempat saya?”

“begini…,” dengan gaya bicaranya yang tegas dan ringkas nampaknya ia ingin segera menyampaikan maksudnya, “tadi saya baru selesai memimpin rapat tentang agenda wisuda bulan depan. Nah, kesimpulan penting yang ingin saya sampaikan pada Mas adalah bahwa mahasiswa miskin tidak diperkenankan mengikuti wisuda, kecuali dapat membayar semua biaya administrasi yang telah ditentukan.

Dengan tenang tanpa rasa terkejut dan tanpa ekspresi aku menjawab datar, “Oh ya, Prof, saya janji tidak akan ikut atau mencoba mendaftar wisuda sampai saya menjadi kaya. “ jawabku tanpa ekspresi blass. “ Tolong kalo ada wisuda lagi, SMS- saya Prof!”

----------------------

Teman-teman kosku terbahak-bahak saat kuceritakan cerpen ini. Dagelan yang tidak lucu, tapi itulah kenyataan yang dihadapi Mas Sam. Tesis sudah selesai dengan hasil yang baik dan layak diterbitkan menjadi buku agar kontribusi pemikirannya dibaca masyarakat. Semua orang sudah mengetahui kesungguhan dan kemampuan intelektualnya dalam menempuh pendidikan formal apalagi dikalangan aktivis “Omeks”. Sayang ada satu hal yang mengganjal, ia tidak punya uang untuk membayar SPP dan administrasi wisuda. Para seniorpun sangat sedikit yang peduli.

Betapa mewahnya sekolahan di negeri ini. Kalau jamannya Kartini hanya kaum ningrat saja yang bisa sekolah, sekarang hanya kaum berduit saja yang boleh menyewa dosen-dosen untuk menceramahi teori-teori. Itulah makanya banyak negara yang mempunyai alokasi anggaran untuk pendidikan yang cukup tinggi. Sebab pendidikan sudah seharusnya menjadi tanggungan negara.

Tanpa ijazah, sering seseorang tidak mendapat pengakuan di masyarakat dan juyga dunia kerja. Sementara banyak juga orang yang bergelar, tidak punya kapasistas intelektual yang layak. Tetapi ketika menjabat sebagai seorang dosen misalnya, ia bisa seenaknya saja mencabik-cabik skripsi Mahasiswa yang dibimbingnya tanpa disertai alasan yang rinci. Yang hari ini disalahkan besoknya di benarkan, dan esoknya disalahkan lagi. Beberapa teman dibikin frustasi dan hampir putus asa oleh dosen pembimbing yang “gila” model begini. Ya, “gila”, karena haus kekuasaan memonopoli kebenaran. Kekuasaan yang berpatokan pada kalimat The King can do no wrong.

Memang tidak adil menyalahkan begitu saja dosen jelek. Gaji yang sedikit , rumah hanya dinas dan bisa digusur sewaktu-waktu, gaya hidup kota yang semakin hedonis, pembimbing disertasinya yang juga bikin frustasi, bisa jadi untuk menumpahkan “kekejaman” struktural. Dan masih banyak lagi faktor yang unik. Bukankah setiap pribadi itu unik, tidak ada yang sama persis bahkan sepasang kembar identik-pun.

Ah, sudahlah Masa kuliah begituan sih masa lalu. Dan orang kampusan yang tahu teori dan mengajarkan yang ndakik-ndakik saja masih doyan dengan feodalisme dan apalagi borjuisme, disini lebih keras lagi kurasa tiupan angin kekuasaan itu. Yang jelas sekali kekuasaan uang. Kalau tidak pandai-pandai memaknai kenyataan-kenyataan, mau belajar menjadi manusia yang meditatif. Sepertinya benar apa yang dikatakan “Iwan Fals” bahwa kenyataan itu pahit. Karena bukan saja mahasiswa miskin saja yang yang dilarang wisuda, tapi kenyataan seakan mau bicara, orang miskin dilarang bicara dan bahagia, Tragis!


Tulisan ini kuangkat atas saran Mas Sam sebagi pelaku sejarah atas kisah nyata. Kepadanya kuucapkan terima kasih karena aku telah belajar sesuatu tanpa harus nggetih

 
madhayudis's . at 1:01 PM | Permalink


1 Komentar:


At 1:35 PM, Anonymous Iko

duuhh, kapan yaa aku bisa di wisuda, hikkzzz